
GITARIS virtuoso Joe Satriani mengungkapkan pelajaran berharga yang ia dapatkan dari Mick Jagger saat tampil di panggung besar.
Vokalis The Rolling Stones itu menekankan bahwa dalam konser skala besar, interaksi dengan penonton jauh lebih penting dibandingkan menunjukkan kemampuan teknis bermain gitar secara berlebihan.
Satriani, yang kini tengah menjalani tur bersama The Best Of All Worlds Band, menjelaskan bahwa ada dua aspek dalam pertunjukan musik live: menjadi seorang musisi dan menjadi seorang performer.
Pengalaman tersebut ia dapatkan setelah tampil bersama Jagger dalam sebuah pertunjukan solo di Tokyo Dome pada tahun 1988.
Dalam wawancara dengan Thinking About Guitar yang dikutip dari Ultimate Guitar, Satriani menuturkan pesan sederhana namun berkesan dari Jagger.
“[Mick Jagger] berkata, ‘Ketika kamu bermain di tempat seperti ini, ini jauh lebih tentang ini [melambaikan tangan ke penonton] daripada tentang ini [memainkan gitar dengan cepat],’” ujar Satriani.
Ia kemudian menjelaskan bahwa Jagger ingin menyampaikan bahwa terlalu fokus pada teknik permainan tidak selalu berdampak besar di hadapan puluhan ribu penonton.
Sebaliknya, hal sederhana seperti melambaikan tangan sambil menahan satu nada dapat menciptakan momen yang lebih berkesan bagi penonton.
“Dia berkata, ‘Jangan terlalu terpaku hanya memainkan banyak nada, karena 91.000 orang di sana tidak bisa mendengar atau melihat detailnya. Tapi jika kamu melakukan ini [melambaikan tangan] dan menahan satu nada, kamu bisa membuat hari mereka lebih berkesan,’” jelas Satriani.
Menurutnya, hal itu memberi perspektif baru tentang peran seorang musisi di atas panggung, yaitu bukan hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga menciptakan koneksi emosional dengan penonton.
Meski dikenal sebagai gitaris dengan teknik shredding yang luar biasa, Satriani mengakui bahwa dirinya tidak selalu nyaman tampil di hadapan banyak orang.
Dalam wawancara lain bersama D’Addario tahun lalu, ia menyebut bahwa tampil di panggung besar kerap menjadi tantangan mental tersendiri.
“Saya pikir sejarah tampil live selalu menjadi semacam mimpi buruk berulang bagi saya, karena saya bukan orang yang terlalu suka keramaian. Saya tidak secara alami mencari untuk berada di depan banyak orang, tetapi saya mencintai musik dan ingin membagikannya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut mencerminkan konflik yang sering dialami seorang seniman: antara dorongan untuk berkarya dan tantangan tampil di depan publik.
“Di situlah konflik khas seorang artis,” tutup Satriani.
