
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo M5,5 yang mengguncang wilayah Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, hari ini (7/7). Berdasarkan analisis tim teknis, aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku menjadi pemicu utama peristiwa tersebut.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini termasuk dalam kategori gempa bumi dangkal. “Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku dengan kedalaman mencapai 40 kilometer,” ujar Wijayanto dalam keterangan resminya di Jakarta.
Hasil analisis parameter pembaruan menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 3,21° LU dan 127,47° BT. Secara spesifik, pusat gempa berada di laut dengan jarak 107 kilometer arah Barat Laut Pulau Doi, Halmahera Utara.
Meskipun memiliki kekuatan yang cukup signifikan, BMKG memastikan melalui pemodelan matematis tingkat lanjut bahwa guncangan ini tidak memiliki potensi untuk memicu gelombang tsunami. Masyarakat diimbau untuk tidak panik terkait risiko tersebut.
Dampak Guncangan di Lapangan
Laporan yang dihimpun BMKG dari masyarakat menunjukkan guncangan dirasakan di beberapa wilayah dengan intensitas yang beragam:
- Wilayah Naha: Skala intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seakan ada truk berlalu).
- Wilayah Tobelo: Skala intensitas II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).
Terkait mekanisme sumbernya, Wijayanto menambahkan bahwa gempa ini memiliki karakteristik pergerakan geser naik atau dikenal dengan istilah oblique thrust fault.
Kondisi Terkini: Hingga pukul 14.30 WIB atau 16.30 WIT, hasil monitoring sistem seismik BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
Imbauan BMKG
BMKG meminta masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diingatkan untuk waspada terhadap kondisi fisik bangunan pascagempa.
“Masyarakat diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh dampak guncangan gempa. Pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa atau tidak ada kerusakan yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah,” pungkas Wijayanto.
